Selasa, 17 Januari 2012

Tuhan, dengarkan pintanya...

helm sudah terpasang rapi di kepalanya, dia melihat ke arah lawannya disebelah dan tersenyum sinis. benderapun telah disiapkan, si wanita seksi dengan suaranya yang juga seksi sedang menghitung mundur, dan ketika hitungan “satu” keduanya menarik gas dengan sekuat-kuatnya. balapan pun dimulai.

tiiiiinnnntiiiiinnnnn!!!!!!!

suara klakson dari belakangnya menyadarkannya. ternyata lampu hijau sudah menyala dan dia hanya tersenyum kemudian dengan sigap kembali mengayuh sepeda bututnya. mimpi yang indah, dan tak pernah berakhir. 

“kapan sepeda tua ini berubah menjadi motor keren?” batinnya sambil mengelus sepeda tuanya yang setia menemaninya kemanapun.

keadaan menyuruhnya untuk hidup sederhana dan seadanya. dan bahkan bisa kuliahpun dia sangat bersyukur. karena tidak semua orang bisa merasakan apa yang dia rasakan. lulus dari sekolah favorit dengan nilai terbaik dan masuk di universitas ternama di Yogyakarta tanpa biaya sepeserpun, itu sungguh hal yang membanggakan, bukan?

dia masuk kedalam ruangan kecil yang serba seadanya itu. tersenyum kepada wanita setengah baya yang sedang menanak nasi di tumang, kemudian menyalami tangannya yang kasar dan telah keriput.

“makan dulu, nak. emak sudah siapkan makanan dan bekalnya dikresek itu”. kata si wanita setengah baya itu.

enggeh, Mak. hemmm... bekalnya sepertinya enak, Mak. si bapak sudah pulang belum, Mak? kok belum lihat daritadi?” tanya si pemuda bersepeda tadi.

“bapak lagi narik, Nak. katanya di pasar lagi rame” jawab emak seadanya sambil mengambilkan nasi ke piring si pemuda tadi.

dengan keadaan yang serba seadanya, si bapak yang hanya seorang tukang becak dan si emak yang hanya seorang ibu rumah tangga biasa, pemuda itu berharap bisa merubah nasib keluarganya suatu saat nanti.




love, love, love and love :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar