Rabu, 23 Januari 2013

bertemu Ibukota

#30harimenulissuratcinta

hulala~
maaf-maaf, seharusnya ini menjadi surat ke-tujuh atau ke-delapan yah? maaf-maaf (lagi) karena beberapa kesibukan yang ada jadinya aku terpaksa memperbengkalaikan surat-surat ini. iya, aku minta maaf sekali lagi :)

aku bertemu dengan ibukota beberapa hari yang lalu. menurutku dia ramah (kalaupun tidak bagi kalian, yah bagaimana caranya buatlah dia menjadi seramah mungkin terhadap kalian). entahlah,senyumnya sedikit hambar kemarin. tapi satu yang aku yakini, dia tetap tersenyum dengan tulus. iya, banjir menghapus sedikit senyumnya dan menambah satu hingga dua kerut didahinya. kasian ibukota kami. ah kasian juga gubernur baru kami. iya, dia baru beberapa bulan menjabat sebagai gubernur sudah harus mengalami masa-masa sulit. cobaan memang tak pandang bulu, tuan.

ibukota kami sudah terlalu tua. sudah berkeriput, ringkih dan lemah. tapi anak-anak kota (baca: manusia penghuninya) tidak banyak yang menyadarinya. mereka terlalu egois dan tak berbelas kasih dengan ibukota kami. entahlah, sampai kapan ibukota kami kuat menanggung beban-beban itu? dia masih saja terus dipaksa bekerja ini dan itu, melakukan pembangunan di bagian sana dan sini, tetap dilakukan pelesteran di semua bagian jalan-jalan tanahnya. dengan kata lain, make-up, pikiran dan pekerjaannya terlalu banyak dan tebal. menumpuk hingga membuatnya membusuk. kasian sekali.

mungkin saja dia ingin menjerit sesekali, tapi tak bisa. ah kalau saja dia manusia, mungkin para anak-anaknya sudah dicaci-makinya hingga bermuncratan air liurnya. yah, saking dongkol dan mangkelnya dia. miris lagi ketika menapaki jalan-jalan di gang-gang kecil yang dikanan-kirinya hanyalah rumah tempel dengan kayu dan triplek, sedangkan dijalanan diujung sana, sebuah gedung kokoh nan megah berdiri dengan membusungkan dadanya. ah, ironisnya.

ah, rasa jijik sudah bebal untuk dirasakan. walaupun ada pampers mengambang disana-sini, banyak dari penghuni rumah tempel itu tidak peduli. bau yang menyengat sudah tidak lagi mereka hiraukan. yang ada hanya bagaimana caranya mereka masih bisa bertahan hidup. menyedihkan bukan? semoga tuan gubernur ibukota kami yang baru ini mampu membuat ibukota kami tersenyum ceria kembali, amien :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar